Life without love

28 November 2011

Iwish I could talk to you… share my life with you…

 

Life without love…

 

 

Kesempatan Untuk Menilik Hati

21 September 2011

Hari ini aku diberi kesempatan untuk berbagi dengan seseorang yang menurut hematku memiliki pemikiran yang cukup dewasa.

Dia mengalami sesuatu yang kira-kira berhubungan dengan apa yang kualami denganmu.

Dia mengingatkanku akan dua hal.

Pertama, bahwa perpisahan merupakan kesempatan untuk masing-masing menilik hati. Apakah sungguh ini hanya sebuah kejadian “terbawa perasaan”? Apakah ini sebuah perasaan yang angin-anginan saja? Apakah ada sesuatu yang lebih dari perasaan? Jika setelah sekian lama, perasaan itu masih ada… mungkin itu bukan “hanya” sebuah perasaan.

Kedua, bahwa satu-satunya hal yang bisa ku lakukan, adalah percaya dan berpegang pada apa yang kamu katakan. Ya aku percaya dan tak mau meragukannya lagi.

Temanku bertanya bahwa sesungguhnya aku sedang bingung harus menunggumu atau tidak. Aku bingung karena ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku.

Perasaanku,

aku masih menyayangimu dengan begitu dalamnya, -pa…

Aku menghela napas dan menghempaskannya begitu saja.

Entahlah.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Mimpi yang Gelisah

18 September 2011

Semalam aku melihat fotomu bersama seorang perempuan.

Yang sejujurnya pernah “kucurigai” merupakan seseorang yang kau sukai.

Lalu, aku bermimpi.

Kamu terlibat dalam sebuah hubungan. Kamu “in a relationship“.

Aku mati rasa mendengar berita itu. Dan mencari tahu siapa gadis beruntung itu.

Tidak…

Aku begitu gelisah…

Siapa perempuan itu? Benarkah kamu sudah memiliki hubungan baru?

Aku Tak Menyangka

13 September 2011

Aku tak menyangka kau akan membalas pesanku.

Sungguh, aku mengakhawatirkan keluargamu ketika mendengar berita menyeramkan itu. Suasana yang sangat mencemkam. Aku tak bisa membayangkan diriku dalam kondisi seperti itu.

Disitulah ada impuls besar untuk mengirim pesan. Dan seketika itu juga lenyaplah semua tembok-tembok yang membatasiku untuk menghubungimu.

Aku tak menyangka kau akan membalas pesanku.

Aku bersyukur mereka baik-baik saja.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Ragu

8 September 2011

Aku mulai ragu dengan hal yang kulakukan ini; menulis di tempat yang pas ini.

Aku mulai berpikir bahwa bodoh sekali aku melakukan ini.

Mengenal dirimu yang sangat kerasa kepala dan mampu menahan diri begitu rupa.

Kamu sudah membuat keputusan dan tidak akan mengengok ke belakang. Tidak mau.

Aku membayangkan diriku melambaikan sapu tangan berwarna putih. Aku menyerah, seperti biasanya.

Haruskah aku melanjutkan hidupku tanpa warna-warni kehadiran dirimu?

Aku belum selesai menulis, haruskah aku melanjutkan?

Aku percaya pada Cinta

7 September 2011

Hari ini aku bicara dengan temanku. Kamu tidak kenal dia. Tapi ia punya nama yang sangat indah, yang bisa dilafalkan dengan nada yang sangat menggoda.

Dia mengingatkanku akan suatu kualitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang perempuan. Seorang wanita; yaitu harga diri.

Dia mengatakan bahwa seharusnya aku juga mengenalmu luar dalam.

Dia melontarkan kata-kata, “Berjuanglah untuk apa yang anggap pantas diperjuangkan, tetapi ingatlah selalu bahwa kamu mempunyai harga, jadi jika dia terus menerus melakukan ini, mungkin dia memang tidak worthed untuk kamu.”

Aku hempaskan pertanyaan ini pada pikiran berbelitku yang tak pernah berhenti untuk merebahkan diri, “Untuk apa kamu berjuang?”.

Aku tahu betul selama ini aku bisa bertindak seolah melupakanmu karena kesal mengingat bagaimana kamu memperlakukanmu. Oh, aku tak bisa melupakan pembicaraan di bangku taman itu. Kamu begitu kesal dan marah. Kamu merasa aku menuntut kamu untuk melakukan yang kamu tidak ingin. Astaga, berbicara denganku saja untuk menyelesaikan masalah ini, kamu tidak mau.

Aku megang bodoh jika mengejarmu terus.

Jadi saat ini, aku tidak sedang mengejarmu.

Aku hanya sedang mengekspresikan, mengubah rasa menjadi kata, melantunkan melodi kasih yang terlalu besar untuk ditangggung. Yang hanya menyakitkan saja jika dijadikan benci.

Karena aku masih percaya akan cinta.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

 

 

Temanmu yang Supel

7 September 2011

Setidaknya ada dua kejadian yang kuingat betul mengenai yang kualami dengan temanmu yang supel itu, yang tentunya berhubungan dengan kamu.

Yang pertama adalah ketika kita bertiga sedang dalam keadaan yang cukup terancam dari posisi kita.

Temanmu itu memakai baju merah. Aku ingat.

Kita bertiga menerawang keluar jendela, meratapi nasib.

Kita mengangkat janji saat itu, untuk benar-benar berjuang. Untuk tidak berhenti sampai di sini saja. Untuk tidak pernah menyerah. Untuk berperang bersama. Ya, semangat kita mengelora! Kita bersalaman dan melaju kembali dengan kekuatan kasih persahabatan!

Dan ingkatkah kamu, aku yang pertama kali melambaikan bendera putih! Hah! Memang payah!

Tidak seperti kamu. Ulet, tekun, rajin, dan blablabla…

Kejadian yang kedua adalah ketika aku duduk menikmati hidangan bersama temanmu itu di meja tamu rumah kami.

Kami sedang membicarakan topik yang sangat menarik: kamu.

Temanmu ini memang semacam perantara ya antara aku dan kamu.

Saat itu dia menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat spesifik padaku.

“Berapa persen kamu yakin kamu mau menjalani hubungan dengan dia?”

Mengesalkan sekali karena aku sama sekali lupa berapa persen aku menjawab!

Aku hanya ingat bahwa persentasenya tidak besar.

Saat itu aku berpikir bahwa tidak penting berapa persen, mengapa tidak menjalaninya dulu, membiarkannya mengalir.

Tetapi sejak saat itu, tak ada lagi cerita mengenai aku dan kamu. Hanya aku. Lalu kamu. Tak ada kita. Ya mungkin memang tak ada dari awal.

Terkadang aku bertanya, jika saja saat itu aku menjawab sekian persen, tentunya persentase yang lebih besar dari yang kusebutkan sebelumnya, akankah keadaannya berbeda, sekarang?

Entahlah.

Siapakah yang tahu berapa persen?
Siapakah yang bisa menjangkau kedalaman hati yang tak terselami? Hati orang lain.

Bahkan hati sendiri, bisakah kita?

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

 

Kamu dan Pulau Firdaus

6 September 2011

Aku merasa cukup mengenalmu.

Setidaknya di lingkungan tempat kita hidup. Tempat kita menghabiskan waktu bersama.

Tapi, aku tahu kita punya beberapa dunia yang berbeda.

Suatu saat, kita diberikan kesempatan untuk mengikuti lomba menulis.

Aku ikut. Begitu juga dengan kamu.

Kamu sekilas memperlihatkan tulisanmu. Aku tak sempat membacanya.

Akan tetapi aku ingat, di dalamnya kamu bercerita tentang kamu dan latar belakangmu. Tentang kamu dan saudara-saudaramu. Kamu bercerita tentang masa kecilmu. Mengapa kamu dan keluargamu harus pindah ke Pulau Firdaus, dst.

Sampai sekarang, aku selalu penasaran, dengan tulisanmu itu.

Aku ingin membacanya.

Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu.

Aku ingin mengenalmu lebih jauh.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Suka kamu?

6 September 2011

Ayo ngaku, kamu suka aku duluan, kan?

Senyumku merekah, nakal sedikit, seraya menuliskan ini.

Kamu mengakuinya melalui temanmu yang supel itu.

Aku mulai suka padamu ketika kamu pergi itu, saat aku hanya bisa bertemu denganmu tiga hari dalam seminggu.

Aku merenung; melusuri lorong-lorong hatiku yang penuh dengan luka dimana-mana.

Aku tahu aku suka, tetapi aku tak pernah benar-benar mengizinkan perasaan itu untuk bertumbuh.

Sukaku padamu itu beda, aneh, unik.

Mana pernah aku salting ketika berjumpa denganmu. Tidak seperti pada cowok-cowok lain yang kutaksir.

Aku tak jatuh hati pada senyummu, kemampuanmu, atau kebaikanmu. Tidak. Berbeda dengan cowok-cowok lain yang pernah kutaksir.

Aku suka kamu.

Aku menyayangimu selama ini, kupikir sebagai sahabat. Ya, hanya sebatas itu saja.

Tidak mungkin ‘kan ya, aku menyukaimu, jika kamu tidak menyukaimu. Atau tidak?

Aku tidak yakin sebenarnya kamu masih suka padaku tidak dalam tahun-tahun selanjutnya. Bahkan ketika aku mulai menyukaimu. Mungkin karena itu aku tidak membiarkan perasaan suka ini tumbuh. Mungkin.

Tetapi ketika kamu menyebarkan benih-benih cinta, lagi, kamu mengangkat benih-benih cinta yang tersimpan jauh di dalam hatiku. Kamu membuka pintu menuju lorong-lorong yang tak tergapai oleh tangan manusia biasa. Aku mengizinkanmu masuk. Menjadi sedikit orang yang berjalan di karpet merah hidupku. Kamu spesial.

Sukaku bertumbuh.

Iya, aku suka kamu. :)

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

 

Anak Kecil yang Menyebalkan

6 September 2011

Hey, anak kecil, kamu menyebalkan tahu!

Teman-temanmu di sana mengatakan bahwa kamu seperti itu, kamu egois!

Apakah kamu memang seperti itu?

Kamu memang ngotot sekali kalau sudah ada maunya.

“Pokoknya kalau tidak pakai desain itu, ya tidak usah!”

“Pokoknya kalau tidak pindah ruangan, mendingan balik ke kamar aja!”

Keras kepala. Luar biasa.

Kalau kamu sudah meyakini sesuatu, “Pokoknya” itu seperti satu-satunya kata dalam perbendaharaan katamu.

Di tahun kedua mengenalmu, aku mulai suka padamu. Waktu kita jarang bertemu. Hanya tiga hari saja dalam seminggu.

Tapi aku berpikir saat itu, ketika kita bertemu, belum apa-apa kita sudah berdebat, berantem. Tidak mungkin pacaran. Tidak mungkin.

Maka aku menyimpan rasa ini. Juga karena kamu dan aku, sedang berkonsentrasi pada suatu yang serius.

Aku bisa membayangkan kamu sebal sekali dan mengernyitkan alismu yang tebal itu ketika membaca bahwa dirimu dicap anak kecil yang menyebalkan.

Tapi izinkan aku mengatakan bahwa kamu bukan seorang anak kecil.

Kamu seorang yang sangat dewasa, taukah kamu itu?

Kamu orang yang sangat perseptif. Kamu mampu menilik dengan tajam sebuah situasi dan perasaan orang.

Kamu hanya memilih untuk tidak menjadi yang lemah.

Kamu memilih untuk tidak disakiti.

Kamu memilih untuk menutup dirimu dan tertawa pada dunia.

Hahaha…

Hatimu terbuat dari emas. Seandainya kamu mau mengerjakannya sampai mengkilap.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Pegang tanganku

6 September 2011

Kamu tahu gak, aku suka sekali setiap kali pergi piknik denganmu.

Karena setiap tahun, kamu selalu ada, memegang tanganku.

Ketika suatu saat kamu tidak ada, aku merasa sangat kehilangan.

Di setiap piknik, biasanya selalu ada semacam outbond yang berupa hiking. Naik turun gunung. Melewati jembatan-jembatan kayu, memandang perkebunan dan sawah yang menggulung indah di tengah hawa yang sejuk. Menuruni  tanah dan rumput yang basah karena embun sehingga licin minta ampun. Menyebrangi sungai-sungai kecil yang gemericiknya menenangkan. Tapi yang kuingat adalah suaramu atau suaraku yang cerewet tak berhenti bicara. Aku takut terjatuh. Tapi aku tak perlu merasa takut. Karena diseberang sungai sebuah tangan besar sudah menantiku. Aku tak perlu khawatir tergelincir. Kamu selalu ada. Menggenggam tanganku dengan erat. Dan walau kita pergi beramai-ramai. Momen itu hanya milikku dan kamu.

Pasti kamu sangat sebal saat harus menjagaku ketika kita berjalan di pinggir jalan raya. Ketika pergi ke toko, dan aku selalu hampir tertabrak mobil atau motor karena sibuk bicara sehingga tak memperhatikan jalan. Kamu akan menarikku dengan kasar supaya aku tidak celaka. Aku suka itu. Aku suka kamu menjagaku.

Sekarang ketika aku pergi hiking, aku hanya melihat bayanganmu saja. Dan hanya mampu bergumam pelan, “I wish you were here.“.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Cinta sejati?

6 September 2011

Kemarin aku bicara dengan teman baikmu.

Dia bertanya apakah aku memang belum bisa melupakanmu.

 

Aku taruh pertanyaan itu menindih dadaku. Itu pertanyaan yang berat, bukan?

 

Temanmu itu mengatakan bahwa aku tidak usah mengganggapmu semacam pahlawan. Yang melakukan ini semua demi aku. Karena dia bilang dia mengenal kamu dan sisi egoismu. Kamu memutuskan ini demi dirimu sendiri, juga. Kamu tidak akan memutuskan sesuatu yang tidak ada benefitnya untuk kamu.

Menurut dia, yang pasti, kamu sudah sangat yakin dengan keputusanmu. Tak tergoyahkan. Kamu seolah sudah mengubur kakimu dalam adukan semen. Menjadi patung. Ya, kubayangkan kerasnya hatimu seperti Paman Gober. Sekuat itu kamu bertahan pada keteguhanmu. Dilempari dengan batu sekali pun, kamu tak akan goyah. Kupanggil Gerombolan si Berat atau Mimi hitam sekalipun, kamu masih akan menyombongkan wajah congkakmu itu. Mungkin baru ketika kubawa buldozer besar yang menggedorkan galah-galah besi, baru kamu bergeser sedikit. Atau mungkin ketika kupanggil seseorang yang berbadan sangat besar dan bulat dan mengerikan, kamu akan lari seketika itu juga!

 

Temanmu bertanya lagi apakah aku sedang bingung apakah kamu cinta sejatiku.

Aku bilang, “Mungkin.”

Aku bilang aku tak berharap kamu akan mau menyuntingku atau semacam itu, sekarang. Aku bahkan tak tahu kapan bisa berbicara denganmu lagi.

Aku hanya tahu bahwa perasaan ini kuat sekali. Aku hanya tahu bahwa aku haus akan disingkapnya kebenaran, namun berpegang kukuh pada percayaku padamu.

Temanmu bilang bahwa adalah kasus umum ketika seseorang menanyakan bahwa pasangannya merupakan cinta sejatinya. Adalah lumrah bahwa perasaan itu kuat. Dan kita akan menemui keadaan ini secara berulang ketika kita jatuh hati pada orang lain…

Aku tidak tahu kamu cinta sejatiku atau tidak.

Aku hanya tahu, beberapa tahun lagi mungkin ketika jalan kita berpapasan, aku tahu bahwa…

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

 

Mengayun

6 September 2011

Aku mengayun di atas nyamannya dan manisnya persahabatan kita. Dengan sebuah senyuman ceria.

Aku menunggumu datang. Di sore hari. Ketika hari sudah mulai sedikit gelap. Sampai kamu duduk di seberangku dan mengayun bersamaku.

Ingatkah kamu ayunan di depan rumahmu itu?

Kita suka berbicara di tempat itu.

Membicarakan apaaaa saja.

Kamu ingat kita membicarakan apa?

Suatu saat kita mendiskusikan kondisi rumahmu yang menurutmu tidak sehat.

Kamu tidak merasa leluasa tinggal di rumahmu bersama kesebelesan sepak bola atau kawanan perampok mainan.

Bagimu menyejukkan untuk memiliki satu rumah atau satu kamar bagi dirimu sendiri saja.

Kamu senang jika penghujung minggu datang dan semua orang meninggalkan rumahmu.

Kamu senang menguasai materi sebelum mempelajarinya ulang. Kamu menikmati kesendirianmu.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

 

Lambretta

6 September 2011

Terakhir kali waktu membereskan kertas-kertas di kamar, aku menemukan secarik kertas dengan sebuah angka 70 tertulis di bagian kotak nilai. Ya, aku sekali, bahwa aku senang menerima nilai 70 itu. Aku kesulitan mengikuti pelajaran. Kamu dengan sabar mengajari aku mengenai trigonometri. Kamu curang. Selalu bisa terlebih dahulu. Kamu buatkan soal, lalu kami mengerjakan. Pre-ulangan ala -pa.

Dan aku dapat nilai 70!

Walau akhirnya pada ulangan yang sesunggunya, galatku terlalu banyak sampai nilaiku terlalu memalukan untuk disebutkan.

Kamu memang tekun dan keras kepala dalam mengerjakan apapun. Karena itu kamu akan sukses. Semua orang tahu. Kecuali kamu. Ke-pesimistisan kamu menenggelamkan dirimu dalam dunia yang penuh dengan kerikil tajam. Kamu seolah sedang menyeberangi sebuah jembatan yang menyeramkan. Kamu harus melompat dari satu tiang yang menjulang tinggi ke tiang lainnya. Dan kalau kamu melihat ke bawah, hanya gelap yang tampak, kedalaman yang terlalu pekat. Kamu dan duniamu.

Pada mulanya kalian rajin berkunjung ke rumah kami. Entah tertawa, meminta makanan, berdiskusi, berdebat, belajar, atau mengajari. Kamu sering datang untuk mengajar. Tepatnya aku merengek-rengek agar kamu mengajariku. Kamu meminjamkan aku sebuah buku matematika. Aku berusaha membaca dan mengerti kata demi kata dari buku itu. Itu kesalahanku sepertinya. Lelet. Lama. Lambretta.

Aku masih ingat kamu datang. Kita duduk melantai. Di halaman paling belakang dari buku tulisku yang masih bertuliskan nama sekolahku yang lama, kamu mulai mencoret-coret angka-angka dan simbol-simbol. Kamu menjelaskan tentang permutasi dan kombinasi. Lalu mengajarkan aku mengenai ekspansi binomial.  Tapi seperti biasanya, aku lambretta. Hehehe.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Waktu

5 September 2011

Kalau seorang bisa mengikuti waktu. Bukan berjalan di sampingnya atau seiring dengannya, tetapi mengekorinya.

Apakah dia akan paham bahwa ini bukan masalah yang kecil ataupun sederhana?

Apakah dia akan paham meskipun jika dipaparkan dengan waktu kronologis, seolah-olah tak ada yang terjadi?

Apakah dia akan paham tentang waktu dan kerelativitasannya. Apakah kamu akan paham, -pa?

Aku bertanya kembali, seperti pesanku yang dewasa itu, after all was it real, what we had?

Apakah hubungan kita dihargai…dinilai oleh waktu, oleh lamanya kita bertahan?

Apakah hubungan kita hubungan yang palsu?

Benarkan cinta tak terbatas oleh jarak dan waktu?

Apakah jiwa cinta bisa bertumbuh tanpa pertemuan?

Apakah kamu mengakhirinya sebelum nilai hubungan ini bertambah dan bertambah?

Dan oleh karena singkatnya waktu kita…aku pun bingung, sayang…aku kacau balau oleh karena aku baru benar-benar merasakan jatuh cinta…kehilangan yang tak tergambarkan…tercabik oleh cinta…yang aku tak sungguh pernah sadari, ada. Mengapa ia ada, jika cinta tumbuh oleh waktu?

Berapa hari kita bertahan? Seminggu? Kurang? Aku bahkan tak mampu menggali ingatanku, karena aku terlalu cemas dan takut akan kejadian traumatis itu.

Terkadang aku berpikir, jika kita memulai ini dari dulu…empat tahun yang lalu…atau dalam jangka waktu itu…sebelum kita berpisah… berarti dalam tiga tahun awal pertemuan kita…akankah semuanya sekarang berbeda? Apakah sekarang aku dan kamu akan mampu berjalan bersama, mengikuti waktu? Walapun ini, ini dan itu.

Bukankah sayang karena kita tidak memulai dan menikmati hubungan ini sewaktu kita bersama…dan justru sekarang memulai ketika aku di sini dan kamu di sana…lalu kamu memutuskan untuk berhenti sebelum terlalu jauh karena menyadari bahwa hubungan jarak jauh tak akan berhasil. Apakah hubungan kita memang sebatas itu?

Akan tetapi kemudian aku sadari, hubungan kita memang telah tumbuh oleh waktu, -pa.

Kamu mengenalku sudah empat tahun sekarang.

Dan kita berani melangkah lebih jauh dalam hubungan yang lebih serius, ketika kita sudah sungguh-sungguh saling mengenal.

Karena itu juga aku menulis, -pa. Aku ingin tahu…seberapa dalam dan indahnya hubungan yang kita miliki…waktu kita masih baik-baik saja.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

 

Di sana

5 September 2011

Untuk teman yang lain, yang berada di sana.

Selama ini sepertinya aku memang menjauh dari kalian.

Aku menjauh dari sana; menyadari atau menerima kenyataan bahwa sana bukanlah kehidupanku. Sana tidak nyata.

Dan hari ini ketika aku sudah berdamai, aku tidak takut lagi.

Aku bisa merindukan dan berbicara secara bebas dengan kalian.

Terima kasih, peri cintaku, sahabatku yang unyil, karena kamu membuatku bisa percaya.

Grateful

5 September 2011

Kamu mau tahu, salah satu alasanku bertahan?

Itu karena aku tahu bahwa kamu tahu aku.

Kamu mengenal aku luar dan dalam.

Kamu tahu bagaimana hidupku. Kamu tahu aku dalam masa burukku. Kamu tahu bagaimana menyebalkannya diriku. Kamu tahu masalah-masalah yang kumiliki. Kamu ada di saat-saat paling memalukan dalam hidupku.

Dan kamu… masih saja menerimaku.

Karena itu, sayang.

I am grateful for that.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Lalu, bagaimana?

5 September 2011

Aku di sini.

Kamu di sana.

Lalu, bagaimana?

Begitu katamu.

Bagaimana, -pa?

Berbicara Padamu

5 September 2011

Aku rasa hanya sejauh ini keberanianku, -pa.

Aku tak berani berbicara denganmu.

Hatiku mengerut jika berpikir untuk menghubungimu dengan cara apapun.

Setidaknya sejak aku terakhir kali menghubungimu.

Pada saat ulang tahunku.

Aku mengirim pesan yang bagiku sangat bermakna dan dewasa. Aku benar-benar berusaha mengertimu.

Aku berupaya keras untuk melanjutkan hidup dan membuatmu merasa aman menjalaninya tanpa merusak hubungan baik di antara kita.

Kini aku ngeri jika harus menghubungimu.

Aku kira karena aku khawatir kamu tak akan membalas.

Karena kamu benar-benar sudah mengeraskan hatimu sejauh itu.

-pa, bolehkah aku bertanya, apakah aku telah menyakitimu?

Hanya inilah caraku berbicara padamu; sekarang.

Mungkin suatu haru akan ada impuls besar dalam diriku sampai aku berani menghubungi lagi seperti saat itu, ketika aku berani menghubungimu setelah sekian lama dan berbicara mengenai buku harianku.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Kamu Sakit

5 September 2011

Suatu hari kamu sakit.

Kamu dirawat oleh Ibu Tua yang baik hati.

Kamu diperbolehkan memencilkan dirimu yang membawa hawa sakit di kamar Ibu Tua.

Kamu terkulai lemas seperti burung yang baru saja menabrak tiang lalu terjatuh.

Tak berdaya.

Teman-teman ramai riuh di luar; tertawa gaduh seperti selalu.

Tapi dari sela pintu kamar yang terbuka sedikit, aku melihatmu terkulai lemas menghadap tembok. Kamu seperti bayi dalam rahim ibunya yang menikmati kesunyian duniamu dikelilingi bantalan yang empuk. Ditemani oleh kesendirian yang terkadang sedikit memuakkan.

Aku berpikir sejenak akan apa yang harus kuperbuat.

Jika sedang sakit seperti itu, rasanya enak sekali jika dipjiat-pijat.

Aku masuk ke ruangmu yang baru itu dan menanyai keadaanmu.

Aku menawarkanmu untuk dipijat. Kamu mau.

Kamu bangun dari posisi tidurmu dan duduk di kursi biru di tengah kamar itu.

Aku memijatmu.

Aku menawarkanmu untuk dibuatkan teh manis panas. Kamu mau.

Aku mengatakan, “Cepat sembuh, ya.”

“Terima kasih, ya” jawabmu.

Aku kemudian berjalan keluar dari kamar pribadimu itu, bergabung dengan canda tawa yang semakin memudar tertelan oleh usiran Ibu Tua.

Belakangan aku berpikir kamu mulai suka denganku karena kejadian ini.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Baju Merah Muda

4 September 2011

Apa yang kita bicarakan ya dulu? Waktu kita masih kecil?

Aku ingat pada pertemuan-pertemuan awal kita, diadakan sebuah acara dimana kita harus berpasangan.

Aku dan kamu.

Apakah kamu yang mengajakku?

Ataukah aku terlalu agresif dan berani mengajakmu?

Sepertinya kamu yang mengajakku ya…

Iya, sajalah.

Kita harus bergandengan tangan, tahu, saat itu.

Di rumah, aku pinjam baju temanku. Baju warna merah muda. Dari atas sampai bawah. Bajunya berbahan sweater. Atasan dan rok.

Ingatkah kamu?

Aku tak ingat kamu pakai baju apa. Kemeja mungkin ya, dan celana.

Apa ya yang terjadi kemudian?

Ada kebaktian…kemudian kita jalan ke lapangan lain untuk menikmati hidangan Jepang. Duduk bersila.

Apakah saat itu aku merasakan sesuatu yang istimewa? Tidak sepertinya.

Tapi aku ingat bahwa kita melakukan kegiatan itu bersama!

Seharusnya kita berjalan jauh, bergandengan tangan menuju sebuah tempat makan yang asyik, tapi tidak jadi rupanya.

Apakah ada foto kita bersama saat itu>

Ingatkan kamu?

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Pertemuan Pertama

4 September 2011

Kamu harus tahu bahwa aku sedang berusaha keras untuk mengingat pertemuan pertama kita.

Aku mau mengingatnya.

Aku ingat memasuki rumahmu. Menemui meja yang panjang di mana ada yang sedang menulis, mengisi form.

Aku ingat membaca nama-nama yang tertempel di setiap pintu ruangan. Salah satu pintu yang akhirnya ditempeli poster film kesukaanmu, yang kuberikan padamu.

Aku ingat bahwa ibumu menginap di rumah kami.

Bagaimana kita berkenalan?

Apakah kamu ingat?

Ingatkah kamu apa yang terjadi?

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

What de?

4 September 2011

Suatu saat aku mengatakan pada temanku, “Rumahnya debuan ya?”.

Dia kemudian membalas, “Debuan itu apa?”

Aku bilang, “Berdebu…”

Dia menjawab, “Oya…aku kira bahasa Perancis, pake de…iya rumahnya de buan, de kotor dan de bau.”

What de?

Masih menangis?

4 September 2011

Ya, aku juga tak percaya bahwa aku masih bisa menangis.

Aku benar-benar mengira sudah mampu menghapusmu; bahkan mampu membencimu.

Ternyata tidak. Nyatanya selama ini aku tak pernah berdamai dengan kenyataan.

Mungkin karena aku merasa tak kenal pada apa yang terjadi.

Aku masih tak paham mengapa kamu tega menelantarkanku begitu saja. Apakah memang karena kamu mau membuatku melupakanmu, atau karena kamu memang tak ingin lagi tahu tentang aku? Apakah dalam dirimu masih ada rasa yang aku miliki terhadapmu?

Selama ini aku berpikir bahwa kamu memang tak ingin lagi tahu tentang aku, kamu membenciku. Perasaan itu rasanya mampu membuatku sebal pada perbuatanmu dan berusaha melupakanmu. Akan tetapi tidak berdamai. Apalagi bukan itu yang kamu akui. Kamu tak jelas mengatakan apa perasaanmu. Kamu hanya mengatakan bahwa kamu rasa hubungan ini tak akan bisa berlanjut ke depan. Ya, kamu memang benar dan bijaksana.

Akan tetapi jika kamu memang benar dan bijaksana, maka aku akan percaya dan berdamai.

Dan itu yang aku lakukan. Aku percaya.

Aku percaya bahwa kamu melakukannya karena cinta. Dan karena itu aku rasa aku masih bisa menangis.

Karena ini menyedihkan.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

Tak Terhapuskan

4 September 2011

Aku baru saja menonton film Eternal Sunshine of the Spotless Mind.

Dan satu hal yang aku simpulkan, yaitu bahwa aku tidak akan pernah mau menghapus dirimu dari memoriku; sel-amanya.

Yang aku pelajari, dari sikapmu, dari temanku, adalah bahwa kamu ingin melupakanku, atau setidaknya membuatku lupa akan dirimu.

Kamu menghilang, -pa! Kamu pergi begitu saja!

Kamu tegas bahwa aku harus melupakanmu. Setidaknya begitu kata temanku.

Jika aku percaya pada kata-katamu. Dan jika memang kamu berbuat tegas. Jika benar bahwa kamu melakukan ini semua walaupun berlawanan dengan perasaanmu dan karena getasnya hubungan yang akan ada, maka…

Kamu, sel-amanya akan kusimpan dalam roh hari-hari yang kujalani.

-pa, aku kembali pada ketetapan awalku…aku akan menunggumu.

Kamu tak terhapuskan.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.

 

 

Tempat yang Pas

4 September 2011

Aku memutuskan untuk memulai menulis di depanosel; bukan tanpa alasan.

Aku tahu aku membutuhkan tempat untuk melepas ragu dan gundah; untuk menyatakan perasaan tanpa ganjalan di ujung lidah.

Dan mungkin suatu hari kamu akan membaca tulisan ini. Mungkin. Peluangnya seperti menemukan pasir putih renik di tengah hamparan gurun pasir.

Ketika aku menulis, aku meyakini bahwa semua yang sudah terjadi pantas untuk dikenang. Semuanya. Bahkan kejadian ketika misalnya dua kucing beradu otot di depan rumah kita.

Aku percaya bahwa masih ada: kita; aku dan kamu. Sel-amanya.